Sabtu, 29 Januari 2011

Usaid Bin Khudhair, sang pahlawan tsaqifah

Keislamannya

Suatu saat Rasulullah  mengirim Mush’ab bin Umair ke Madinah guna mengajari orang-orang Muslim Anshor yang telah berbai’at kepada Nabi untuk membela Islam di Bai’tul Aqabah pertama, dan untuk menyeru orang lain kepada agama Allah. Namun kedatangan Mush’ab mendapat tantangan dari Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz, di mana keduanya adalah pemimpin kaumnya. Pada suatu saat, Usaid melihat di majelis Mush’ab banyak orang yang dengan penuh minat dan perhatian mendengarkan kalimat-kalimat petunjuk yang mengajak mereka kepada jalan Allah yang diserukan oleh Mush’ab bin Umair. Tiba-tiba majelis yang tenang itu dikejutkan oleh kedatangan Usaid yang melampiaskan segala kemarahan dengan berangnya kepada Mush’ab bin Umair. Melihat ulah Usaid, Mush’ab lalu berkata : “ Sudikah Anda duduk mendengarkannya ? Bila ada sesuatu yang menyenangkan hati Anda, maka Anda dapat mengambilnya. Dan jika Anda kurang berkenan dengannya maka kami hentikan apa yang tidak Anda sukai tersebut.”

Karena melihat Mush’ab mengandalkan logika dan akal serta cara yang baik, maka Usaid menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu berkata kepada Mush’ab: “ Benar kata Anda! Nah kemukakanlah apa yang ada pada Anda!” Mush’ab lalu membacakan ayat-ayat Al Qur`an dan menjelaskan seruannya, agama yang haq, yang Nabi Muhammad perintahkan untuk menyampaikan dan mengibarkan benderanya, yaitu Islam. Orang-orang yang menghadiri majelis yang sama mengatakan : “ Demi Allah sebelum mengucapkannya telah terlihat pada raut wajah Usaid sikap keislamannya, kita mengenalnya pada cahaya muka dan sikap lunaknya . “

Belum lagi Mush’ab selesai menerangkan, Usaid pun berseru dengan amat terkesan: “ Alangkah mulianya kata-kata ini dan alangkah indahnya ….! Apa yang kalian lakukan bila kalian hendak masuk agama ini ?” Jawab Mush’ab : “ Anda bersihkan badan , pakaian, dan ucapkan syahadat yang haq, kemudian Anda sholat.”

Begitulah Usaid, ketika ia mengenal jalannya, ia tidak ragu-ragu lagi maju melangkah menyambutnya dengan kebulatan hati. Usaid tegak berdiri untuk menerima agama yang telah membuka pintu hatinya dan menyinari jiwanya. Ia mandi dan membersihkan diri, lalu menyatakan keislamannya.


Keutamaannya

Termasuk 3 orang shohabat besar dari kalangan Anshor selain Sa’ad bin Mu’adz dan ‘Abbad bin Basyar.

Allah memberikan kelebihan kepadanya dengan suara yg merdu ketika membaca Al Qur`an. Karena merdu dan indahnya suara Usaid, sampai malaikat mendekatinya khusus untuk mendengarkan bacaan Usaid.

Tongkat yang dibawanya bias bersinar di kegelapan malam.

Dalam hadits riwayat Bukhari diterangkan bahwa : Usaid bin Hudhair dan seorang laki-laki Anshor berbincang-bincang di sisi Rasulullah sampai larut malam. Kemudian keduanya pulang dengan membawa tongkatnya masing-masing. Ternyata tongkat tersebut bisa menyinari selama dalam perjalanannya, sehingga ketika salah seorang dari keduanya berpisah di jalan, maka tetaplah bersinar tongkatnya yang lain (yang satu) dan terus berjalan hingga sampai ke rumah (keluarganya).

Pernah mencium pinggul Rasulullah. 
Dari Abdurrahman bin Abi Laila dari bapaknya ia berkata : “Usaid bin Hudhair adalah seorang laki-laki yang sholih, lucu dan tampan. Tatkala ia berbincang-bincang dengan kaum di sisi Rasulullah dan menjadikan mereka tertawa. Lalu Rasulullah  memukul lambungnya, dan ia berkata : “ Anda telah sakiti aku, maka aku balas qishos ya Rasulallah, sesungguhnya Anda berpakaian sedangkan saya tidak berbaju” Abi Laila berkata: Maka Rasulullah mengangkat bajunya dan dipeluklah oleh Usaid kemudian dicium pinggulnya seraya berkata : “ Sungguh demi Bapak dan Ibuku, inilah yang saya kehendaki ya Rasulallah.” (Riwayat Hakim)

Pahlawan di hari Saqifah.
Tak lama setelah wafatnya Rasulullah, segolongan orang Anshor yang dipimpin oleh  Sa’ad bin Ubadah mengumumkan bahwa mereka lebih berhak memegang khilafah. Sewaktu debat dan tukar pendapat semakin memanas, maka Usaid pun berpidato yang ditujukan kepada kaumnya golongan Anshor, “ Tuan-tuan semua tahu, bahwa Rasulullah  berasal dari golongan Muhajirin. Dan seseungguhnya kita adalah pembela Rasulullah, maka kewajiban kita sekarang adalah membela khalifahnya..!”

Maka demikianlah, akhirnya ucapan Usaid dalam pidatonya itu menjadi obat yang mujarab untuk menenangkan suasana kembali.

Wafatnya

Usaid bin Hudhair wafat pada bulan Sya’ban tahun 20 H di Baqi’. Salah seorang yg mengangkat jenazah Usaid ke kuburannya adalah Amiirul Mukminin Umar bin Khattab. Ini menunjukkan keutamaan seorang shohabat Nabi yang sholih, cerdas akalnya, dan bijaksana dalam ucapannya.

kabar

Sidang Pendeta Penghina Allah dan Rasul di Temanggung Dipenuhi Massa Muslimin

Diposting pada Jum'at, 28-01-2011 | 09:05:23 WIB
Kamis 27 Januari 2011, jam 08:00 WIB massa kaum muslimin sudah mulai berdatangan dari segala penjuru, menuju ke pusat kota Temanggung untuk mengikuti jalannya sidang ke tiga Pendeta Antonius yang telah menyebarkan buku yang berisi penghinaan terhadap Allah dan Muhammad Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam, berserta tempat-tempat ibadah umat Islam.

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, dalam buku yang disebarkan oleh pendeta Antonius tertulis bermacam-macam hujatan, pelecehan dan penghinaan terhadap Allah, Rasulullah dan Islam. Di antaranya  adalah: "Allah dan Muhammad -shollalohu 'alaihi wasallam- disebut pembohong. Ibadah haji adalah simbol kemesuman Islam, Hajar Aswad adalah simbol dari (maaf) kemaluan wanita, sedangkan Jamarat adalah simbol dari (maaf) kemaluan laki-laki. dan masih banyak sekali pelecehan dan penghinaan lainnya terhadap Allah, Rasulullah -shollalohu 'alaihi wasallam- dan Islam.

Sidang yang mengagendakan keterangan saksi-saksi termasuk saksi ahli dari Majelis Ulama Indonesia berlangsung lancar dan tidak tampak ada kericuhan. Walaupun berkali-kali pekikan takbir bergema di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Kabupaten Temanggung, namun para pengunjung sidang yang terdiri dari berbagai elemen kaum muslimin masih terkendali.

Namun di saat sidang dinyatakan selesai dan akan dilanjutkan pekan depan, mendadak sontak massa berlarian menuju tersangka yang secepat kilat dilindungi oleh aparat kepolisian yang hari itu menerjunkan saut SSK lengkap dengan dua mobil Barracuda, water canon dan pasukan anti huru-hara. Massa menjadi beringas saat menyaksikan petugas menyelamatkan tersangka ke dalam mobil Barracuda. Mereka berlarian mengejar dan mengepung sekitar gedung pengadilan, namun petugas berhasil melarikan si penghujat itu.

Akhirnya puluhan massa yang tidak sabar dan geram mendengar ulah pendeta penghujat itu pun melampiaskan kemarahan mereka dengan melakukan sweeping di seluruh ruangan di gedung pengadilan negeri Temanggung. Ketika mereka tidak menemukan si penghujat, mereka  berbondong-bondong menuju ke Lembaga Pemasyarakatan Temanggung untuk mencari tersangka. Namun hasilnya nihil dan mereka pun melampiaskan kemarahan mereka dengan merusak deretan sepeda motor di depan LP Temanggung.

Ini adalah ujian bagi umat Islam, sekaligus tantangan bagi kita untuk merapatkan barisan dan mentarbiyah ummat agar mereka memiliki izzah sebagai ummat Islam sekaligus juga memahami adab-adab dalam menegakkan dan membela Dienul Islam yang mulia ini.

Ironis memang, kaum Nasrani yang katanya minoritas ternyata sangat berani mengobok-obok dan menteror umat Islam yang justru mayoritas di Indonesia. Sangat mungkin, ditengarai kegiatan missionaris yang selalu memancing kericuhan dan emosi umat islam ini adalah sebuah perbuatan yang terencana dan teroganisir, melihat ditemukanya kasus-kasus yang serupa di beberapa kota lain di Indonesia. Sehingga kita berharap pihak aparat hukum dan pemerintahan harus bisa menggungkap siapa tokoh intelektual dan penyuplai dana kegiatan penyebaran buku yang berisi penghinaan terhadap Allah dan Muhammad Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam, beserta tempat-tempat ibadah umat Islam. [muslimdaily.net/Abu Izzudin]

Minggu, 23 Januari 2011

Sunan Muria


Ia putra Dewi Saroh --adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.


Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.n

Referensi :

- http://www.belajarbersama-sama.co.cc/2010/04/sunan-muria.html
- Kumpulan Biografi Tokoh Terkenal dan Tokoh Indonesia Lengkap www.kolom-biografi.blogspot.com

sunan gunung jati


Syech Syarief Hidayatulloh dilahirkan Tahun 1448 Masehi. Ayahanda Syech Syarief Hidayatulloh adalah Syarief Abdullah, seorang dari Mesir keturunan ke 17 Rosulullah SAW, bergelar Sultan Maulana Muhamad, Ibunda Syech Syarief Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang dan setelah masuk Islam berganti nama menjadi Syarifah Muda’im adalah Putri Prabu Siliwangi dari kerajaan Padjajaran. Syech Syarief Hidayatullah berkelana untuk belajar Agama Islam dan sampai di Cirebon pada tahun 1470 Masehi. Syech Syarief Hidayatullah dengan didukung uwanya, Tumenggung Cerbon Sri Manggana Cakrabuana alias Pangeran Walangsungsang dan didukung Kerajaan Demak, dinobatkan menjadi Raja Cerbon dengan gelar Maulana Jati pada tahun 1479 .Sejak itu pembangunan insfrastruktur Kerajaan Cirebon kemudian dibangun dengan dibantu oleh Sunan Kalijaga, Arsitek Demak Raden Sepat, yaitu Pembangunan Keraton Pakungwati, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, jalan pinggir laut antara Keraajaan Pakungwati dan Amparan Jati serta Pelabuhan Muara Jati.
Syech Maulana Jati pada Tahun 1526 Masehi, menyebarkan Islam sampai Banten dan menjadikannya Daerah Kerajaan Cirebon. Dan pada Tahun 1526 Masehi juga tentara Kerajaan Cirebon dibantu oleh Kerajaan Demak dipimpin oleh Panglima Perang bernama Fatahillah merebut Sunda Kelapa dan Portugis, dan diberi nama baru yaitu Jayakarta.
Pada tahun 1533 Masehi, Banten menjadi Kasultanan Banten dengan Sultannya adalah Putra dari Syech Maulana Jati yaitu Sultan Hasanuddin.
Syech Maulana Jati salah seorang Wali Sanga yang mempekenalkan visi baru bagi masyarakat tentang apa arti menjadi Pemimpin, apa makna Masyarakatm, apa Tujuan, Masyarakat, bagaimana seharusnya berkiprah di dalam dunia ini lewat Proses Pemberdyaan.
Syech Maulan Jati melakukan tugas dakwah menyebarkan Agama Islam ke berbagai lapisan Masyarakat dengan dukungan personel dan dukungan aspek organisasi kelompok Forum Walisanga, dimana forum Walisanga secara efektif dijadikan sebagai organisasi dan alat kepentingan dakwah, merupakan siasat yang tepat untuk mempercepat teresebarnya Agama Islam.
Syech Maulana Jati berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 26 Rayagung tahun 891 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1568 Masehi.
Tanggal Jawanya adalah 11 Krisnapaksa bulan Badramasa tahun 1491 Saka.
Meninggal dalam usia 120 tahun, sehingga Putra dan Cucunya tidak sempat memimpin Cirebon karena meninggal terlebih dahulu. Sehingga cicitnya yang memimpin setelah Syech Maulana Jati.
Syech Syarief Hidayatullah kemudian dikenal dengan Sunan Gunung Jati karena dimakamkan di Bukit Gunung Jati.

Referensi :
http://lemburkuring2007.wordpress.com/2007/06/21/sunan-gunung-jati/
Kumpulan Biografi Tokoh Terkenal dan Tokoh Indonesia Lengkap www.kolom-biografi.blogspot.com